in , ,

SMRC: Media Sosial Buruk untuk Kesehatan Mental

Infobengkulu.com – Sudah banyak perdebatan di dunia tentang pengaruh media sosial (medsos) terhadap kesehatan mental penggunanya. Tapi sejauh ini belum ada studi yang meyakinkan secara ilmiah apakah media sosial buruk, netral, atau baik terhadap kesehatan mental penggunanya.

Untuk itu Princeton University bekerjasama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan studi lewat eksperimen untuk melihat hubungan kausal antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental penggunanya. Studi ini menemukan bahwa media sosial punya pengaruh buruk terhadap kesehatan mental. Berhenti menggunakan media sosial memulihkan kesehatan mental penggunanya.

Peneliti dari Princeton University, Nicholas Kuipers, menyatakan ”penonaktifan media sosial meningkatkan kesehatan mental secara substansial, terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga”.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam presentasi temuan survei bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental” menerangkan bahwa studi ini berdasarkan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibukota provinsi di Indonesia. Sampel sebanyak 1502 responden dipilih secara acak (stratified multistage random sampling) dan diwawancara online 2 kali dalam bentuk panel.

Wawancara pertama dilakukan ketika responden dalam keadaan biasa beraktivitas dengan medsos mereka. Kemudian responden-responden tersebut dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok:

1) kelompok responden yang diminta untuk menghentikan penggunaan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T1),

2) kelompok responden yang diminta bersama-sama dengan semua anggota rumah tangga untuk tidak menggunakan medsos setelah wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok T2),

3) kelompok responden yang tetap dipersilakan menggunakan medsos seperti biasa sejak wawancara pertama sampai wawancara kedua (Kelompok Kontrol).

Selang waktu wawancara 1 dan 2 selama 1 bulan. Wawancara 1 dilakukan pada 17 November – 15 Desember 2025, dan wawancara 2 dilakukan pada 16 Desember – 14 Januari 2026. Studi ini dibiayai oleh Princeton University.Variabel-variabel studi meliputi afeksi, kepuasan hidup, rasa cemas, depresi, dan kualitas tidur.

Hasil studi menunjukkan bahwa kesehatan mental Kelompok T1 dan T2 setelah periode treatmen selama 1 bulan secara umum menjadi lebih baik dibanding Kelompok Kontrol.(Rls)

Apa Pendapat Anda?

Rakernas Gekrafs, Ihsan Sobari Tekankan Pentingnya Kolaborasi Ekonomi Kreatif