Infobengkulu.com – Beragam persoalan yang dihadapi masyarakat Kabupaten Mukomuko mengemuka dalam kegiatan reses masa sidang II Tahun 2026 yang dilaksanakan Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Provinsi Bengkulu, H. Andy Suhary, S.E., M.Pd., di Kelurahan Pasar Mukomuko, Jumat (17/7/2026).
Mulai dari pembangunan infrastruktur, konflik antara masyarakat dengan satwa liar, tingginya harga pupuk, hingga sulitnya petani menjual hasil panen sawit menjadi aspirasi yang paling banyak disampaikan warga. Seluruh masukan tersebut diterima langsung oleh Andy Suhary untuk diperjuangkan melalui DPRD Provinsi Bengkulu.
Dalam pertemuan itu, warga mengeluhkan belum terealisasinya pembangunan jembatan di Desa Pondok Batu. Infrastruktur tersebut dinilai sangat dibutuhkan karena menjadi jalur terdekat yang menghubungkan masyarakat menuju Kota Mukomuko. Selama ini, kondisi akses yang terbatas dinilai menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Persoalan lain yang tak kalah mendesak adalah keberadaan buaya di Sungai Selagan. Warga mengaku aktivitas mereka mencari nafkah di sungai kini tidak lagi aman karena kemunculan buaya semakin sering terjadi. Padahal, sebagian masyarakat menggantungkan penghasilan dari menangkap ikan, mencari lokan, dan memanfaatkan sumber daya sungai lainnya.
Karena itu, masyarakat berharap Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dapat mengambil langkah penanganan sehingga keberadaan satwa liar tersebut tidak lagi membahayakan warga tanpa mengabaikan aspek konservasi.
Selain menyampaikan keluhan, masyarakat juga mengusulkan sejumlah program untuk mendukung ketahanan pangan. Di antaranya bantuan ternak sapi dan kambing, serta bibit kelapa sawit, bibit tanaman buah-buahan, dan berbagai bibit pertanian lainnya yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat.
Aspirasi lainnya adalah pembukaan jalan baru di kawasan Pian Kereta yang dihubungkan menuju Sungai Selagan. Menurut warga, akses tersebut berpotensi membuka kawasan permukiman baru sekaligus memperlancar distribusi hasil pertanian dan perkebunan. Mereka berharap Pemerintah Provinsi Bengkulu dapat membantu peningkatan jalan tersebut agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Di sektor perkebunan, petani mengaku kesulitan menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Sejumlah pabrik kelapa sawit disebut membatasi jumlah kendaraan pengangkut yang masuk setiap hari. Akibatnya, hasil panen petani harus mengantre lebih lama untuk diterima pabrik.
Masyarakat memperoleh informasi bahwa pembatasan itu terjadi karena distribusi crude palm oil (CPO) menuju Sumatera Barat mengalami hambatan sehingga kapasitas penampungan pabrik ikut berkurang. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap kualitas buah sawit dan pendapatan petani.
Tak hanya itu, tingginya harga pupuk juga menjadi perhatian warga. Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menekan harga pupuk sehingga biaya produksi petani menjadi lebih ringan.
Menanggapi seluruh aspirasi tersebut, Andy Suhary menegaskan bahwa reses merupakan momentum penting untuk mendengarkan langsung kebutuhan masyarakat. Ia memastikan seluruh usulan dan keluhan yang disampaikan akan menjadi catatan penting untuk diperjuangkan serta dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan instansi terkait agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan dan skala prioritas.(Red)
in Pemerintahan
Legislator Andy Suhary Serap Aspirasi Warga Mukomuko, Jembatan, Buaya Sungai hingga Sulit Jual Sawit Jadi Sorotan

