Infobengkulu.com – Anggota DPRD Kota Bengkulu, Edi Hariyanto, S.P., M.M., menyoroti pelaksanaan Car Free Day Night (CFDN) di kawasan Belungguk Point yang dinilai berpotensi menghambat akses layanan kesehatan. Hal tersebut disampaikannya kepada awak media, Minggu (25/1/2026).
Menurut Edi, Belungguk Point merupakan kawasan strategis yang memiliki fungsi vital bagi pelayanan publik. Di area tersebut terdapat dua rumah sakit, yakni Rumah Sakit Tiara Sella dan Rumah Sakit RSHD milik Pemerintah Daerah, yang setiap hari melayani pasien dari berbagai wilayah.
“Keberadaan dua rumah sakit ini menjadikan Belungguk Point sebagai jalur penting bagi mobilitas pasien, tenaga medis, dan ambulans, terutama dalam kondisi darurat,” ujar Edi.
Ia menilai, penutupan jalan yang dilakukan saat pelaksanaan CFD Night menimbulkan persoalan serius. Dalam sejumlah kasus, pasien dengan kondisi gawat darurat mengalami keterlambatan menuju rumah sakit akibat rekayasa lalu lintas di kawasan tersebut.
“Kondisi ini tentu sangat berisiko karena menyangkut keselamatan jiwa pasien. Akses menuju fasilitas kesehatan seharusnya tidak boleh terhambat dalam situasi apa pun,” tegasnya.
Edi menekankan bahwa secara prinsip, CFD Night merupakan kegiatan positif karena memberi ruang publik bagi masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi. Namun demikian, pelaksanaannya perlu dievaluasi agar tidak berbenturan dengan kepentingan layanan kesehatan yang bersifat mendesak.
Sebagai solusi, Edi mendorong pemerintah daerah untuk segera menetapkan jalur khusus darurat atau emergency lane yang tetap dapat dilalui ambulans dan kendaraan layanan darurat selama CFD Night berlangsung, khususnya menuju RS Tiara Sella dan RS RSHD.
Selain itu, ia juga menyarankan adanya penyesuaian titik dan waktu penutupan jalan. Penutupan total di ruas utama yang menjadi akses rumah sakit sebaiknya dihindari, atau setidaknya dibatasi pada jam-jam tertentu yang relatif aman.
“Petugas gabungan dari dinas perhubungan, Satpol PP, dan kepolisian juga perlu disiagakan di titik strategis agar bisa segera membuka jalur ketika ada ambulans atau pasien darurat,” jelasnya.
Tak kalah penting, Edi menekankan perlunya koordinasi resmi antara penyelenggara CFD Night dengan manajemen rumah sakit sebelum kegiatan dilaksanakan.
Dengan koordinasi yang baik, jalur alternatif dan sistem rujukan pasien dapat disiapkan lebih matang.Apabila gangguan akses masih terus terjadi, Edi meminta pemerintah daerah untuk mempertimbangkan penataan ulang lokasi CFD Night.
Ia menilai pemindahan atau penggeseran lokasi ke area yang tidak berdekatan langsung dengan fasilitas kesehatan vital dapat menjadi opsi terbaik.
“Ruang publik tetap penting, tetapi keselamatan dan pelayanan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.(Red)



GIPHY App Key not set. Please check settings