in

OPINI : Cakap Digital, Bukan Sekadar Bisa Bermedia Sosial

Oleh Naura Muthi’ah Mahasiswa Ilmu Komunikasi

            Bagi mahasiswa, ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur, kita membuka WhatsApp untuk melihat informasi dari grup kelas. Di sela perkuliahan, kita membuka Instagram atau Tiktok. Ketika mendapat tugas, kita mencari referensi melalui berbagi platform digital seperti google. Informasi mengenai kegiatan kampus, beasiswa, organisasi, hingga peluang pekerjaan juga sering kali kita temukan melalui media sosial. Besarnya peran internet dalam kehidupan masyarakat Indonesia terlihat dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Dalam survei 2024, APJII mencatat jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 221,56 juta orang dengan tingkat penetrasi 79,5%. Dari kelompok usia, Gen Z menjadi kelompok pengguna internet terbesar dengan kontribusi sebanyak 34,40%.

            Data tersebut menunjukan bahwa ruang digital bukan lagi sekadar tempat untuk hiburan, tetapi tempat untuk berkomunikasi, tempat belajar, membangun relasi,mencari informasi, bahkan menyampaikan pendapat. Namun, semakin sering kita berada di ruang digital, semakin besar pula kemungkinan kita berhadapan dengan berbagai risiko. Seperti informasi palsu, penipuan digital, perundungan, penyalahgunaan data pribadi, hingga konflik akibat salah memahami sebuah informasi. Karena itu menurut saya , menjadi pengguna digital saat ini tidak cukup hanya dengan bisa menggunakan teknologi. Kita perlu menjadi pengguna yang cakap digital, yaitu orang yang mampu menggunakan teknologi secara kritis, aman, etis, dan bertanggung jawab.

            Kementerian Komunikasi dan Digital sendiri menempatkan literasi digital dalam empat pilar, yaitu kecakapan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital. Artinya, kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi hanyalah salah satu bagian dari kecakapan digital. Pengguna juga perlu memahami etika berkomunikasi, menjaga keamanan data dan identitas digital, serta memahami bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan masyarakat.

            Sebagai mahasiswa, salah satu contoh yang paling dekat adalah penggunaan grup WhatsApp kelas. Grup yang awalnya digunakan untuk menyampaikan informasi perkuliahan dapat menjadi sumber kebingungan ketika seseorang menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Misalnya, ada pesan jadwal kuliah dibatalkan atau tugas yang dikumpulkan pada hari tertentu tetapi yang mengirim bukan penanggung jawab matkul. Karena hal tersebut terkadang menjadi hal yang membingungkan bagi mahasiswa, sehingga menyebabkan misinformasi. Hal sederhana seperti ini sebenarnya menunjukkan pentingnya literasi digital. Kita tidak harus menjadi ahli teknologi untuk menghindari kesalahan tersebut, kebiasaan mengecek kembali informasi melalui sumber resmi sudah menjadi bentuk kecakapan digital. Dalam konteks mahasiswa, sumber tersebut dapat berupa pengumuman dosen, akun resmi program studi, fakultas, universitas, atau pihak yang memang memiliki kewenangan memberikan informasi.

            Persoalan yang sama juga dapat di temukan ketika informasi yang sedang viral muncul di media sosial, tidak sedikit pengguna yang hanya membaca judul atau potongan video saja. Kemudian langsung memberikan komentar dan membagikannya, padahal informasi tersebut belum tentu memiliki konteks yang lengkap atau pun benar. UNESCO menjelaskan bahwa literasi media dan informasi mencakup kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan membuat konten secara kritis. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan untuk mengenali misinformasi dan ujaran kebencian serta menggunakan ruang digital secara aman dan bertanggung jawab.

            Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi seperti saya, persoalan ini menjadi relevan. Karena kita tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berpotensi menjadi produsen informasi. Kita membuat konten, mengelola media sosial, menyebarkan informasi kegiatan, membuat opini, hingga ikut berdiskusi mengenai berbagai persoalan di masyarakat. Karena itu, setiap informasi yang kita produksi dan sebarkan seharusnya tidak  hanya dipikirkan dari sisi menarik atau tidaknya sebuah konten. Tetapi juga dari sisi kebenaran dan dampaknya terhadap kita, ketika membuat konten mengenai suatu isu kita perlu memastikan bahwa informasi yang kita bawa itu memiliki sumber yang jelas dan kredibel. Ketika membagikan berita,kita juga perlu membaca isinya secara utuh dan tidak hanya mengandalkan judulnya saja.

            Persoalan tentang keamanan digital tidak kalah penting, mahasiswa sering kali menerima berbagai informasi mengenai beasiswa, lowongan pekerjaan, giveaway, maupun tawaran lainnya melalui media sosial. Tidak semua informasi tersebut dapat dipercaya, ada kemungkinan pengguna diarahkan untuk memberikan data pribadi atau membuka tautan tertentu. Dalam kondisi seperti itu, kecakapan digital mengajarkan kita untuk mampu berhenti sejenak sebelum mengambil tindakan. Yaitu, kita dapat memeriksa terlebih dahulu apakah akun yang mengirim informasi tersebut merupakan akun resmi, mencari informasi melalui situs resmi lembaga terkait, dan mempertimbangkan apakah data yang diminta memang diperlukan. Kementerian komunikasi dan digital juga memasukkan perlindungan identitas digital dan data pribadi, penipuan digital, serta rekam jejak digital sebagai aspek bagian dari keamanan digital.

            Selain keamanan informasi, cara berkomunikasi juga menjadi persoalan penting di ruang digital. Kita mungkin pernah melihat seseorang menjadi sasaran komentar negatif hanya karena memiliki pendapat yang berbeda, Di kolom komentar, orang dapat dengan mudah mengatakan sesuatu yang mungkin tidak akan mereka sampaikan ketika bertemu secara langsung. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya belajar bahwa komunikasi bukan hanya persoalan menyampaikan pesan. Ada proses interpretasi dan dampak yang muncul setelah pesan diterima oleh orang lain, karena itu etika komunikasi tetap diperlukan meskipun interaksi berlangsung melalui layar. Kita boleh tidak setuju dengan pendapat orang lain, tetapi jangan jadikan ketidaksetujuan itu sebagai alat untuk menghina ataupun menyerang pribadi seseorang. Kritik terhadap sebuah gagasan seharusnya tetap disampaikan dengan alasan yang jelas tanpa merendahkan orang yang menyampaikan gagasan tersebut.

            Menurut saya, menciptakan ruang digital yang aman juga bukan berarti membuat semua orang harus memiliki pendapat yang sama, ruang publik yang sehat justru membutuhkann perbedaan pandangan. Tetapi kita tetap harus membangun budaya komunikasi yang memungkinkan perbedaan tersebut disampaikan secara bertanggung jawab. Rasa aman di ruang digital berarti seseorang dapat mencari informasi, menyampaikan pendapat, dan berinteraksi tanpa harus menghadapi ancaman, perundungan, penyalahgunaan data pribadi, atau serangan personal. UNESCO juga menempatkan kemampuan bernavigasi dilingkungan online secara aman dan bertanggung jawab sebagai bagian penting dari literasi media dan informasi. Namun, tanggung jawab tersebut tentu tidak hanya berada pada pengguna. Kampus, keluarga, pemerintah, dan platform digital juga memiliki peran untuk menciptakan ekosistem digital yang aman. Pendidikan literasi digital perlu diberikan secara praktis, bukan hanya dengan menjelaskan definisi nya saja tetapi juga memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

            Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Rasa aman diruang digital sangat dipengaruhi bagaimana manusia menggunakan alat tersebut. Kita mungkin tidak dapat menghilangkan seluruh resiko di internet, tetapi kita dapat mengurangi resiko tersebut dengan meningkatkan kemampuan dan kesadaran dalam menggunakan media. Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat bahwa kecakapan digital bukan hanya sekedar kemampuan menggunakan sosial media atau mengikuti perkembangan teknologi. Lebih dari itu, kacakapan digital adalah kemampuan untuk berpikir sebelum menyebarkan informasi, berbicara dengan mempertimbangkan orang lain, serta memahami bahwa setiap tindakan di ruang digital memiliki konsekuensi.

            Ruang digital adalah ruang publik kita bersama, Jika setiap orang menuntut kebebasan berbicara tanpa memikirkan tanggung jawab, ruang tersebut akan semakin sulit menjadi tempat yang aman. Sebaliknya, jika kebebasan berkomunikasi berjalan bersama dengan kemampuan berpikir kritis, etika, dan kesadaran menjaga keamanan. Maka ruang digital akan menjadi tempat yang sehat bagi semua kalangan. Cakap digital bukan hanya soal bisa menggunakan teknologi, tetapi juga soal bagaimana kita menggunakan teknologi tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Apa Pendapat Anda?

UNIB Dukung Penangkaran Penyu Alun Utara Jadi Edupark, Siap Perkuat Kolaborasi Akademik

red and yellow arcade machine

Opini : Literasi di Kalangan Muda, Luwes Bermedia Sosial Belum Tentu Melek Digital